BANDUNG,TIPIKOR-RI– Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Teguh Iswara Suardi, melakukan kunjungan kerja ke Stasiun Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung. Kunjungan ini bertujuan untuk meninjau kesiapan sistem pemantauan gempa sekaligus memperkuat strategi mitigasi bencana nasional.
Dalam arahannya, Teguh menekankan bahwa refleksi atas tragedi Gempa Cianjur 2022 dan Gempa Palu 2018 harus menjadi momentum untuk memperbaiki sistem peringatan dini. Ia mengapresiasi keunggulan teknis BMKG, namun menyoroti tantangan besar dalam penyampaian informasi ke masyarakat.
“Secara teknis, BMKG sudah sangat baik. Tantangan berikutnya adalah bagaimana informasi ini bisa sampai dan benar-benar dipahami masyarakat,” ujar Teguh.
Teguh mendorong BMKG untuk tidak hanya sekadar memberikan data, tetapi lebih proaktif dalam melakukan sosialisasi sejak dini, terutama saat aktivitas kegempaan mulai terdeteksi dalam periode tertentu. Ia mengusulkan penguatan literasi bencana melalui jalur pendidikan dengan menjadikan guru sebagai ujung tombak.
Beberapa poin utama yang ditekankan dalam penguatan edukasi antara lain Penyederhanaan Bahasa Informasi bencana harus dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami dan menarik.
Pemanfaatan SDM Muda Mendorong staf BMKG menjadi “influencer” internal untuk menjangkau ekosistem digital.
Integrasi Kurikulum Mengkaji pengintegrasian pendidikan klimatologi dan bencana ke dalam kurikulum nasional.
Selain aspek komunikasi, Teguh menyoroti faktor infrastruktur sebagai penyebab tingginya angka korban jiwa. Ia menyerukan perubahan paradigma dalam sektor pembangunan di Indonesia.
“Pembangunan ke depan harus lebih responsif terhadap risiko bencana. Mitigasi tidak boleh lagi dipandang sebagai pelengkap, tetapi menjadi bagian utama dalam perencanaan,” tegas legislator dari Fraksi NasDem tersebut.
Tidak hanya fokus pada gempa, kunjungan ini juga membahas penguatan sektor klimatologi. Teguh mendorong optimalisasi Sekolah Lapang bagi petani dan nelayan agar mereka lebih tangguh menghadapi perubahan iklim yang berdampak pada mata pencaharian mereka.
Kunjungan ini menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, mulai dari peningkatan efektivitas komunikasi publik hingga integrasi mitigasi dalam kebijakan pembangunan nasional. Melalui langkah-langkah ini, diharapkan risiko korban jiwa dan kerugian materiil akibat bencana di masa depan dapat ditekan secara signifikan.






