PERISTIWA memilukan dunia penerbangan tanah air di awal 2026 yang menimpa pesawat “Aerei da Trasporto Regionale” atau juga “Avions de Transport Régional” (ATR) merupakan perusahaan pesawat terbang buatan Prancis-Italia, didirikan pada 1981, membawa memori lama saya pulang ke tahun 1995 ketika bekerja sebagai Manajer Perusahaan Daerah (Perusda) Pangkep, dan harus mendata dan juga membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP) 225 ribu warga Pangkep, beserta Kartu Keluarga (KK).
– – – – – – – – – – –
Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) memiliki tiga dimensi wilayah strategis, yakni pulau, daratan dan pegunungan. Untuk bisa menjangkau warga dan menyiapkan KTP mereka bukan hal yang mudah. Medan terberat adalah kepulauan dengan batas terluar berhadapan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan wilayah pegunungan Bulusaraung berbatasan dengan Kabupaten Maros, Soppeng, & Bone. Sungguh sesuatu yang sulit, terlebih ketika itu era ponsel belum seperti sekarang ini. Maka waktu tiba giliran desa pegunungan, Tompobulu, letaknya persis di punggung Bulusaraung, untuk menjangkau desa itu hanya ada alternatif motor (itupun langka) dan pilihan paling tepat naik Kuda.
Menyiapkan armada angkut 12 fotografer KTP saat itu bukan hal mudah, terutama pulau dan gunung. Tetapi bupati ketika itu dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), Kolonel Baso Amrullah, dalam kamus militer tidak ada kata “susah” atau “tidak bisa” semua harus bisa. Persiapan kulakukan kesibukan bercampur tugas menyambut datangnya Presiden Suharto dan Perdana Menteri Singapura Lie Kwan Yu, guna meresmikan unit Pabrik Semen Tonasa yang juga segera akan dioperasikan. Tiba dari Surabaya mengurus buku dan pamflet bupati, saya segera menyiapkan 3 tim foto, mereka sudah harus bergerak ke Tompobulu (Makassar: penutup gunung) atau juga berarti atas/puncak gunung, dan itu artinya Bulusaraung.
Supir yang ditugaskan membawa rombongan saya adalah supir paling senior, dan ia pertama tercatat dalam sejarah Pangkep berhasil membawa bupati Pangkep naik ke Tompobulu, masyarakat ketika itu menyambut mobil bupati dengan siraman beras. Satu simbol dalam tradisi adat pada masyarakat Bugis-Makassar, menyampaikan rasa gembira atas kejadian atau upacara yang dinilai spesial. Rupanya saya juga menerima sambutan sama, karena lama tak ada mobil naik ke Tompobulu, maka dari jendela mobil yang ku tumpangi beras berhamburan masuk terasa pedih menyentuh wajah, lemparan beras itu disertai teriakan warga, ibu-ibu dan anak-anak lari dibelakang mobil yang mengantar saya menuju rumah kepala desa.
Tiga malam di Tompobulu, dingin menyergap, kabut adalah sahabat setiap pagi, siang dan malam, bisa duduk di teras rumah sambil memandang gugusan pegunungan Bulusaraung, asal badan terbungkus sarung, suhu sangat rendah, desa itu ada di atas ketinggian gunung, dan saya melihat bagaimana warga hidup dengan tenang. Beberapa dusun harus dijangkau dengan ekstra hati-hati, atau warga yang datang berkumpul untuk difoto. Sepekan sebelum rombongan kami tiba peristiwa tragis terjadi, dua anak Sekolah Dasar (SD) hampir ditelan ular besar, satu dari anak itu tak berhasil diselamatkan, ular besar itu sudah membunuhnya. Tebing batu dan jurang menganga dibeberapa sudut kampung, tapi warga Tompobulu, menjadikannya sebagai perisai.
Mengikuti berita juga laporan jurnalisme warga dari lokasi bencana pesawat ATR, saya menatap lamat lamat setiap foto, terutama Bulusaraung, gunung itu punya cerita misteri, panjang dan sangat inspiratif, tentang dunia lain yang kita sulit jangkau. Sekalipun kita tidak percaya, tetapi jangan lupa kebesaran dan kemahaciptaan Allah, sesungguhnya amat sangat terbatas bagi akal dan hati kita yang amat kecil. Tak perlu lagi ragu bahwa alam ini menyimpan begitu banyak kisah misteri. Gugusan pegunungan dari Wentira di Sulawesi Tengah, Veerbeeck di Luwu Raya, Bambapuang dan Latimojong di Enrekang, Bulusaraung di Pangkep-Maros, dan Bawakaraeng juga Lompobattang di Gowa-Jeneponto dan Sinjai serta Bantaeng. Semua itu pelajaran untuk dibaca bahwa manusia tidak sendiri. Doa saya untuk para korban ATR di Bulusaraung. Kita hamba sangatlah kecil dan tak berdaya atas kebesaran-NYA.
Makassar, 17 Januari 2026
Zulkarnain Hamson
Foto: dokumentasi pribadi 2025






